Pos blog pertama

Ini adalah pos pertama Anda. Klik tautan Sunting untuk mengubah atau menghapusnya, atau mulai pos baru. Jika ingin, Anda dapat menggunakan pos ini untuk menjelaskan kepada pembaca mengenai alasan Anda memulai blog ini dan rencana Anda dengan blog ini.

pos

Iklan
Dipublikasi di Tak Berkategori | Meninggalkan komentar

Wisata Museum Keraton Surakarta

Keraton Kasunan Surakarta terletak di pusat kota Solo, Kelurahan Baluwarti, Kecamatan Pasar Kliwon, Kota Surakarta. Pembangunan keraton dilakukan dari tahun 1743 hingga 1745. Konstruksi bangunan keraton menggunakan bahan kayu jati yang diperoleh dari Alas Kethu di dekat kota Wonogiri.

Arsitek keraton ini adalah Pangeran Mangkubumi, kerabat Susuhunan (raja Solo) yang kelak memberontak dan berhasil mendirikan kesultanan Yogyakarta dengan gelar Sultan Hamengku Buwana I. Jadi tidak mengherankan jika bangunan kedua keraton memiliki banyak kesamaan. Setelah pembangunan selesai, keraton baru yang diberi nama Keraton Surakarta Hadiningrat tersebut resmi digunakan oleh raja pada tanggal 17 Februari 1745.

Bila ingin mengunjungi keratin ini, pengunjungharusmematuhi berbagai peraturan seperti tidak memakai topi, kacamata hitam, celana pendek, sandal, serta jaket. Bila sudah terlanjut bercelana pendek dapat meminjam kain bawahan untuk digunakan selama mengelilingi kawasan keraton.

Mengunjungi keraton Solo dari arah depan bisa terlihat susunan kota lama khas Jawa: sebuah bangunan keraton yang dikelilingi oleh alun-alun, Pasar Klewer, dan Masjid Aung Surakarta. Memasuki bagian depan keraton, terdapat bangunan Sasana Sumewa dan sebuah meriam berbahan perunggu bernama Kyai Rancawara. Bangunan ini dulu digunakan sebagai tempat Pasewakan Agung, yaitu pertemuan antara Raja dan para bawahannya. Di tempat ini pengunjung masih bisa melihat Dhampar Kencana (singgasana raja) yang terletak di Siti Hinggil Lor. Pengunjung tidak boleh menaiki area ini sebab tempat itu sangat dihormati dan dianggap keramat.

Dari Siti Hinggil, pengunjung akan memasuki Kori Renteng, Kori Mangu, dan Kori Brojonolo. Mereka yang melewati pintupintu ini diminta untuk meneguhkan hati, membuang rasa ragu, dan memantapkan pikiran untuk selalu waspada. Sesudah itu, pengunjung sampai di pelataran Kamandungan Lor, kemudian Sri Manganti, dan akhirnya museum keraton bernama Museum Keraton Surakarta Hadiningrat.

Dalam museum pengunjung dapat menyaksikan benda-benda peninggalan Keraton Kasunanan Surakarta dan beberapa fragmen candi yang ditemukan di Jawa Tengah. Koleksinya antara lain alat masak abdi dalem, senjata-senjata kuno yang digunakan keluarga kerajaan, juga peralatan kesenian. Koleksi menarik lain adalah kereta kencana, topi kebesaran Paku Buwana VI, Paku Buwana VII, serta Paku Buwana X.

Selanjutnya pengunjung bisa ke Sasana Sewaka yang berada di samping museum. Pada halaman Sasana Sewaka wisatawan harus melepaskan alas kaki untuk berjalan di hamparan pasir halus yang diambil dari Gunung Merapi dan Pantai Parangkusumo. Di sini, pengunjung dilarang mengambil atau membawa pasir halus tersebut.

Terakhir, ada menara yang disebut Panggung Sanggabuwana. Konon, menara digunakan oleh Susuhunan untuk bersemedi dan bertemu Nyai Rara Kidul, penguasa Pantai Selatan. Selain sebagai tempat semadi, menara ini juga berfungsi sebagai menara pertahanan untuk mengontrol keadaan di sekeliling keraton.

 

Sumber : https://id.wikipedia.org/wiki/Museum_Keraton_Solo

Dipublikasi di Artikel | Meninggalkan komentar

Silsilah Raja-Raja Keraton Surakarta

IniBangsaku – Pemberontakan Pangeran Mangkubumi yang tidak menyetujui kebijakan kakaknya, Pakubuwana II  yang terlalu menguntungkan pihak penjajah menyebabkan terjadinya perang saudara, sampai akhirnya terjadi perjanjian Giyanti pada tanggal 17 Februari 1755. Perjanjian ini berisi kesepakatan yang membagi wilayah kekuasaan Kerajaan Mataram menjadi dua pemerintahan, yaitu Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta.

Kasultanan Yogyakarta dikuasai oleh Pangeran Mangkubumi yang kelak bergelar Sri Sultan Hamengkubuwono I, sedangkan Kasunanan Surakarta dikuasai oleh Pakubuwana III, putera dari PakubuwanaI I, karena pada waktu perjanjian Giyanti ditandatangani, Pakubuwana II telah mangkat. Berikut ini adalah raja-raja keturunan dari Raja Pakubuwana III.

 

Sri Susuhunan Pakubuwana III (1755-1788)

Sri Susuhunan Pakubuwana III memiliki nama asli Raden Mas Suryadi. Beliau adalah raja yang menandatangani Perjanjian Giyanti bersama pamannya Pangeran Mangkubumi dan Belanda. Raja kedua ini mengalami cobaan yang sangat berat pada waktu pemerintahannya, seperti pemberontakan dan perang saudara, kudeta karena sikap politiknya yang lemah dan selalu dikendalikan oleh bangsa penjajah. Kekacauan dari luar dan dalam istana yang terus merongrong ini bahkan belum reda hingga saat mangkatnya, yaitu pada tahun 1788.

 

Sri Susuhunan Pakubuwana IV (1788-1820)

Putera mahkota yang menggantikan kedudukan Raja Pakubuwana II adalah raja yang cerdas, tegas, taat beragama, dan pemberani, dan  memiliki nama asli Raden Mas Subadya. Raja muda ini konon memiliki wajah yang rupawan, sehingga beliau dipanggil Sunan Bagus. Sri Susuhunan Pakubuwana IV ini bercita-cita mempersatukan kembali kerajaan-kerajaan yang terpecah dalam satu kedaulatan, yaitu Kerajaan Mataram. Selain sebagai seorang negarawan yang ulung, ternyata sang Raja juga seorang yang memiliki jiwa sastra. Salah satu buah karyanya adalah tulisan berjudul Serat Wulangreh. Setelah mangkat pada tahun 1820.

 

Pakubuwana V (1820-1823)

Penerus tahta berikutnya hanya memiliki masa kekuasaan yang pendek, yaitu selama 3 tahun. Pakubuwana V yang bernama asli Raden Mas Sugandi ini, memiliki julukan lain yaitu Sunan Sugih (raja yang kaya), karena selain memiliki harta yang banyak, ia juga memiliki banyak ilmu kesaktian. Pada masa pemerintahannyalah Serat Centhini, karya sastra Jawa kuno  yang sangat terkenal itu ditulis. Beliau mangkat pada tahun 1823 dan tahta dilanjutkan oleh puteranya, yaituPakubuwana VI.

 

Pakubuwana VI

Putera mahkota yang kelak bergelar Pakubuwana VI ini terlahir dengan nama Raden Mas Sapardan. Sang Raja terkenal memiliki kegemaran bersemedi sehingga memiliki nama panggilan Sinuhun BangunTapa. Beliau diketahui memiliki hubungan yang akrab dengan Pangeran Diponegoro dan banyak berjasa dalam membantu perjuangannya melawan penjajah.

Setelah Pangeran Diponegoro ditangkap, beliau pun tak lama kemudian ikut ditangkap dan diasingkan ke Ambon. Raja Pakubuwana VI wafat pada usia 42 tahun dan mendapat gelar pahlawan nasional dari Pemerintah Indonesia. Belanda yang membunuh beliau dengan menembak dahinya, berusaha menutupi penyebab kematian sang Raja dengan menyatakan, bahwa raja meninggal mengalami kecelakaan di laut.

 

Pakubuwana VII

Terlahir dengan nama Raden Mas Malikis Solihin, beliau bukanlah putera dari Pakubuwana VI, melainkan pamannya. Pada waktu raja terdahulu dibuang ke Ambon, beliaulah yang naik tahta untuk menggantikan. Masa pemerintahannya berlangsung aman, tentram dan damai, sehingga geliat sastra meningkat di Surakarta. Beliau mangkat tanpa meninggalkan putera mahkota, sehingga tahtanya diambil alih oleh Pakubuwana VIII yang merupakan kakaknya dan naik tahta pada waktu sudah berusia 69 tahun.

 

Pakubuwana VIII

Pakubuwana VIII memiliki nama asli Raden Mas Kusen, ia adalah seorang raja yang hanya memiliki seorang permaisuri tanpa selir-selir yang lain. Masa pemerintahannya hanya tiga tahun dan beliau pun wafat tanpa memiliki putera mahkota, sama seperti adiknya. Yang kemudian menggantikannya untuk menjalankan pemerintahan adalah putera dari Raja Pakubuwana VI.

 

Pakubuwana IX

Raja Pakubuwana IX memiliki nama asli Raden Mas Duksino. Ayahnya adalah Raja Pakubuwana VI,  seorang pahlawan yang gigih membela tanah air melawan penjajahan Belanda bersama Pangeran Diponegoro. Sebenarnya sang Raja adalah raja yang adil dan bijaksana, hanya saja bangsawan-bangsawan di sekitarnya adalah orang-orang yang gemar mencari keuntungan bagi dirinya sendiri, sehingga pemerintahan Raja Pakubuwana IX tidak membawa banyak kemajuan. Setelah mangkatnya, beliau digantikan oleh puteranya sendiri yang kelak bergelar Pakubuwana X.

 

Pakubuwana X

Sampeyan dalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Pakubuwana X adalah gelar lengkap dari Raden Mas Malikul Kusno setelah dilantik menjadi raja. Beliau memerintah selama 46 tahun dan pada masa pemerintahannya Kerajaan Surakarta memasuki era modernisasi. Tidak banyak terjadi perang atau peristiwa politik yang menggemparkan. Pada masa tersebut justru banyak dibangun infrastruktur modern, seperti stasiun, pasar, stadion, dan sebagainya. Beliau mangkat dan mendapat gelar Sunan Panutup dari rakyatnya, yang berarti raja besar yang terakhir.

 

Pakubuwana XI

Putera mahkota penerus tahta berikutnya terlahir dengan nama Raden Mas Antasena, dan selanjutnya menjadi raja dengan gelar Pakubuwana XI.  Berbeda dengan sang ayah, beliau menjalankan pemerintahan pada masa-masa berat perang dunia ke-2, dan pergantian bangsa yang menguasai kedaulatan Indonesia. Pemerintahan beliau terjadi pada masa penjajahan Jepang.

 

Pakubuwana XII

Setelah Pakubuwana XI, Pakubuwana XII menggantikan posisi ayahandanya menjadi raja Surakarta. Keadaan masih belum aman saat itu, apalagi Republik Indonesia sedang bersiap untuk memproklamasikan kemerdekaannya. Setelah wafatnya, terjadi keributan di istana antara Pangeran Hangabehi dan Pangeran Tejowulan yang memperebutkan tahta. Keributan yang terjadi antara dua pangeran itu disebabkan karena raja terdahulu tidak memiliki permaisuri yang sah. Tetapi akhirnya, Pangeran Hangabehi sebagai putera tertua dan atas restu seluruh keluarga kerajaan, membuat beliau yang dinobatkan sebagai Pakubuwana XIII, sedangkan adiknya menjadi maha patih. Perselisihan itu dianggap selesai dan kini kedua kakak beradik itu bekerja sama untuk memajukan keraton sebagai warisan budaya khususnya budaya Jawa dan penjaga tradisi luhur masyarakat Jawa.

 

Sumber : http://inibangsaku.com/silsilah-raja-raja-kasunanan-surakarta/

Dipublikasi di Artikel | Meninggalkan komentar

Tarian Tradisional Khas Keraton Surakarta

Tarian merupakan bagian yang menyertai perkembangan pusat baru ini. Ternyata pada masa kerajaan dulu tari mencapai tingkat estetis yang tinggi. Jika dalam lingkungan rakyat tarian bersifat spontan dan sederhana, maka dalam lingkungan istana tarian mempunyai standar, rumit, halus, dan simbolis. Jika ditinjau dari aspek gerak, maka pengaruh tari India yang terdapat pada tari-tarian istana Jawa terletak pada posisi tangan, dan di Bali ditambah dengan gerak mata.

Surakarta merupakan pusat seni tari. Sumber utamanya terdapat di Keraton Surakarta dan di Pura Mangkunegaran. Dari kedua tempat inilah kemudian meluas ke daerah Surakarta seluruhnya dan akhirnya meluas lagi hingga meliputi daerah Jawa Tengah, terus sampai jauh di luar Jawa Tengah. Seni tari yang berpusat di Kraton Surakarta itu sudah ada sejak berdirinya Kraton Surakarta dan telah mempunyai ahli-ahli yang dapat dipertanggungjawabkan. Tokoh-tokoh tersebut umumnya masih keluarga Sri Susuhunan atau kerabat kraton yang berkedudukan. Seni tari yang berpusat di Keraton Surakarta itu kemudian terkenal dengan Tari Gaya Surakarta.

Sahabat GWI Indonesia Banget, akan diketengahkan hanya beberapa tarian klasik yang bersumber atau pusat Seni Tari dari Keraton Kasunanan dan Keraton Pura Mangkunegaran.

Tari Bedaya Ketawang

Tari Bedaya Ketawang Surakarta (https://www.kompasiana.com)

Bedhaya Ketawang terdiri dari kata Bedhaya dan Ketawang. Bedhaya artinya penari wanita di Istana. Ketawang berasal dari kata ‘tawang’ yang berarti bintang di langit. Tarian ini sangat kental dengan budaya Jawa dan dianggap sakral. Tari yang digelar satu tahun sekali ini diperagakan oleh sembilan perempuan dengan tata rias seperti pengantin Jawa. Sembilan pernari tersebut memiliki sebutan masing-masing, yaitu: Batak, Endhel Ajeg, Endhel Weton, Apit Ngarep, Apit Mburi, Apit Meneg, Gulu, Dhada, Dan Boncit. Nomor sembilan juga dapat direpresentasikan sebagai konstelasi bintang-bintang dari arti Ketawang.

Bedhaya Ketawang adalah tarian yang dicipta oleh Raja Mataram ketiga, Sultan Agung (1613-1646) dengan berlatar belakang mitos percintaan antara raja Mataram pertama, Panembahan Senopati, dengan Dewi Laut Selatan, bernama Ratu Kencanasari atau biasa disebut Kanjeng Ratu Kidul – sebutan di kalangan masyarakat Jawa.

Fokus dari tarian ini adalah pada adegan cinta antara Ratu Kencanasari dengan Panembahan Senopati. Musik yang mengiringi tarian ini terdiri dari lima instrumen, yaitu kemanak, kethuk, kenong, kendhang, dan gong serta diiringi suara dari sinden.

Jenis

Berbagai jenis tari Bedhaya yang belum mengalami perubahan.

  • Bedhaya Ketawang, lama tarian 130 menit
  • Bedhaya Pangkur, lama tarian 60 menit
  • Bedhaya Duradasih, lama tarian 60 menit
  • Bedhaya Mangunkarya, lama tarian 60 menit
  • Bedhaya Sinom, lama tarian 60 menit
  • Bedhaya Endhol-endhol, lama tarian 60 menit
  • Bedhaya Gandrungmanis, lama tarian 60 menit
  • Bedhaya Kabor, lama tarian 60 menit
  • Bedhaya Tejanata, lama tarian 60 menit

Bedhaya garapan baru

  • Bedhaya La la, lama tarian 15 menit
  • Bedhaya To lu, lama tarian 12 menit
  • Bedhaya Alok, lama tarian 15 menit

Tari Serimpi

Tari Serimpi (https://www.pegipegi.com)

Tari Serimpi telah ada sejak Prabu Amiluhur ketika masuk ke Kraton mendapat perhatian pula. Tarian yang ditarikan 4 putri itu masing-masing mendapat sebutan : air, api, angin dan bumi atau tanah, yang selain melambangkan terjadinya manusia juga melambangkan empat penjuru mata angin. Sedang nama peranannya Batak, Gulu, Dhada dan Buncit.

Komposisinya segi empat yang melambangkan tiang Pendopo. Seperti Bedhaya, tari Srimpipun ada yang suci atau sakral yaitu Srimpi Anglir Mendhung. Juga karena lamanya penyajian (60 menit) maka untuk konsumsi masa kini diadakan inovasi.

Contoh Serimpi hasil garapan baru

  • Serimpi Anglirmendhung, lama tarian menjadi 11 menit
  • Serimpi Gondokusumo, lama tarian menjadi 15 menit

Beksan Gambyong

Beksan Gambyong di Keraton Pura Mangkunegaran (https://risalahpejalan.tumblr.com)

Berasal dari tari Glondrong yang ditarikan oleh Nyi Mas Ajeng Gambyong. Menarinya sangat indah ditambah kecantikan dan modal suaranya yang baik, akhirnya Nyi Mas itu dipanggil oleh Bangsawan Kasunanan Surakarta untuk menari di Istana sambil memberi pelajaran kepada para putra/i Raja. Oleh Istana tari itu diubah menjadi tari Gambyong.

Keunikan tarian ini terletak pada selarasnya gerakan para penari dengan irama gending dan kendang yang dimainkan. Gending yang selalu mengawali tarian ini adalah gending pangkur, sedangkan alat musik yang dimainkan selain kendang antara lain gender, kempul,kenong, dan gong.

Selain sebagai hiburan, tari ini sering juga ditarikan untuk menyambut tamu dalam upacara peringatan hari besar dan perkawinan.

Ciri-ciri Tari ini

  • Jumlah penari seorang putri atau lebih
  • Memakai jarit wiron
  • Tanpa baju melainkan memakai kemben atau bangkin
  • Tanpa jamang melainkan memakai sanggul atau gelung
  • Dalam menari boleh dengan sindenan (menyanyi) atau tidak

Beksan Wireng

Berasal dari kata Wira (perwira) dan ‘Aeng’ yaitu prajurit yang unggul, yang ‘aeng’, yang ‘linuwih’. Tari ini diciptakan pada jaman pemerintahan Prabu Amiluhur dengan tujuan agar para putra beliau tangkas dalam olah keprajuritan dengan menggunakan alat senjata perang. Sehingga tari ini menggambarkan ketangkasan dalam latihan perang dengan menggunakan alat perang.

Ciri-ciri tarian ini

  • Ditarikan oleh dua orang putra/i
  • Bentuk tariannya sama
  • Tidak mengambil suatu cerita
  • Tidak menggunakan ontowacono (dialog)
  • Bentuk pakaiannya sama
  • Perangnya tanding, artinya tidak menggunakan gending sampak atau srepeg, hanya iramanya atau temponya kendho atau kencang
  • Gending satu atau dua, artinya gendhing ladrang kemudian diteruskan gendhing ketawang
  • Tidak ada yang kalah atau menang atau mati

Tari Pethilan

Hampir sama dengan Tari Wireng. Bedanya Tari Pethilan mengambil adegan atau bagian dari cerita pewayangan.

Ciri-cirinya Tarian

  • Tari boleh sama, boleh tidak
  • Menggunakan ontowacono (dialog)
  • Pakaian tidak sama, kecuali pada lakon kembar
  • Ada yang kalah atau menang atau mati
  • Perang mengguanakan gendhing srepeg, sampak, gangsaran
  • Memetik dari suatu cerita lakon

Contoh dari Pethilan

Tari Bambangan Cakil

Tari Bambangan Cakil (https://plus.google.com)

Merupakan sebuah tari yang mengandung nilai filosofi tinggi dimana kejahatan, kesombongan, kecongkakan dan sebagainya tidak ada artinya karena akan tertumpas habis oleh kebaikan.

Tari ini sebenarnya diadopsi dari salah satu adegan yang ada dalam pementasan Wayang Kulit yaitu adegan Perang Kembang. Tari ini menceritakan perang antara ksatria melawan raksasa. Ksatria adalah tokoh yang bersifat halus dan lemah lembut, sedangkan Raksasa menggambarkan tokoh yang kasar dan bringas. Didalam pementasan wayang Kulit, adegan perang kembang ini biasanya keluar tengah-tengah atau di Pathet Sanga. Perang antara Ksatria (Bambangan) melawan raksasa ini sangat atraktif, dalam adegan ini juga bisa digunakan sebagai tempat penilaian seorang dalang dalam menggerakkan wayang.

Tari ini merupakan (petikan) drama wayang orang, berasal dari Surakarta yang diambil dari Epos Mahabarata. Bentuk tarinya dapat juga disebut sebagai Wireng. Karena ditarikan tanpa menggunakan antawacana (percakapan).Tarian ini menggambarkan adegan peperangan antara seorang ksatria Pandawa, melawan Cakil (seorang tokoh raksasa). Istilah Bambangan digunakan untuk menyebut para ksatria keluarga Pandawa, yang dalam tarinya mempergunakan ragam tari halus yang dipakai untuk tokoh ksatria seperti Abimanyu, Sumitra dan sebagainya.

– Hanila – Prahasta, dan lain-lain

Tari Golek

Tari ini berasal dari Yogyakarta. Pertama dipentaskan di Surakarta pada upacara perkawinan KGPH. Kusumoyudho dengan Gusti Ratu Angger tahun 1910. Selanjutnya mengalami persesuaian dengan gaya Surakarta. Tari ini menggambarkan cara-cara berhias diri seorang gadis yang baru menginjak masa akhil baliq, agar lebih cantik dan menarik.

Macam-macamnya

  • Golek Clunthang iringan Gendhing Clunthang
  • Golek Montro iringan Gendhing Montro
  • Golek Surungdayung iringan Gendhing Ladrang Surungdayung, dan lain-lain.

Tari Bondan

Tarian ini menggambarkan kasih sayang seorang ibu terhadap anaknya. Boneka mainan, payung, kendi, dan properti lainnya adalah ciri khas tarian yang dahulu diwajibkan pada setiap kembang desa di daerah Solo ini.

Tari ini dibagi menjadi:

  • Bondan Cindogo
  • Bondan Mardisiwi
  • Bondan Pegunungan atau Tani

Tari Bondan Cindogo dan Mardisiwi merupakan tari gembira, mengungkapkan rasa kasih sayang kepada putranya yang baru lahir. Tapi Bondan Cindogo satu-satunya anak yang ditimang-timang akhirnya meninggal dunia. Sedang pada Bondan Mardisiwi tidak, serta perlengakapan tarinya sering tanpa menggunakan kendhi seperti pada Bondan Cindogo.

Ciri pakaiannya

  • Memakai kain Wiron
  • Memakai Jamang
  • Memakai baju kotang
  • Menggendong boneka, memanggul payung
  • Membawa kendhi (dahulu), sekarang jarang

Untuk gendhing iringannya Ayak-ayakan diteruskan Ladrang Ginonjing. Tapi sekarang ini menurut kemampuan guru atau pelatih tarinya. Sedangkan Bondan Pegunungan, melukiskan tingkah laku putri asal pegunungan yang sedang asyik menggarap ladang, sawah, tegal pertanian. Dulu hanya diiringi lagu-lagu dolanan tapi sekarang diiringi gendhing-gendhing lengkap.

Ciri pakaiannya

  • Mengenakan pakaian seperti gadis desa, menggendong tenggok, memakai caping dan membawa alat pertanian.
  • Di bagian dalam sudah mengenakan pakaian seperti Bondan biasa, hanya tidak memakai jamang tetapi memakai sanggul atau gelungan. Kecuali jika memakai jamang maka klat bahu, sumping, sampur, dll sebelum dipakai dimasukkan tenggok. Bentuk tariannya; pertama melukiskan kehidupan petani kemudian pakaian bagian luar yang menggambarkan gadis pegunungan dilepas satu demi satu dengan membelakangi penonton. Selanjutnya menari seperti gerak tari Bondan Cindogo atau Mardisiwi.

Tari Topeng

Tari Topeng (https://chic-id.com)

Tari ini sebenarnya berasal dari Wayang Wong atau drama. Tari Topeng yang pernah mengalami kejayaan pada jaman Majapahit, topengnya dibuat dari kayu dipoles dan disungging sesuai dengan perwatakan tokoh/perannya yang diambil dari Wayang Gedhog, Menak Panji. Tari ini semakin pesat pertumbuhannya sejak Islam masuk terutama oleh Sunan Kalijaga yang menggunakannya sebagai penyebaran agama. Beliau menciptakan 9 jenis topeng, yaitu topeng Panji Ksatrian, Condrokirono, Gunung sari, Handoko, Raton, Klono, Denowo, Benco(Tembem), Turas (Penthul). Pakaiannya dahulu memakai ikat kepala dengan topeng yang diikat pada kepala.

 

Sumber : http://wisata-indonesia-elipl.blogspot.co.id/2016/05/tarian-tradisional-surakarta-jawa-tengah.html

Dipublikasi di Artikel | Meninggalkan komentar

Minuman Khas Keraton Surakarta

WEDANG DONGO, MINUMAN KHAS KERATON SOLO

Wedang Dongo, minuman yang satu ini mungkin sudah jarang dikenal. Meskipun ada beberapa kesamaan dari proses pembuatan dan penyajiannya, bagi sebagian orang khususnya Kota Solo mungkin akan lebih mengenal Wedang Rondhe karena memang lebih banyak dan mudah dijumpai.

Menurut cerita, dahulu Wedhang Dongo adalah minuman khas dari Keraton Surakarta. Namun dalam perkembangannya, minuman ini pun bisa dinikmati oleh masyarakat. Wedang Dongo ini sendiri terbuat dari rempah-rempah dan tanpa bahan pengawet.

Selain sebagai minuman penghangat badan seperti halnya dengan Wedang Jahe atau Wedang Ronde, minuman ini juga bermanfaat untuk menjaga kondisi tubuh. Apalagi saat musim dingin atau penghujan. “Selain menghangatkan badan, Wedang Dongo ini baik untuk kesehatan. Biasanya banyak pembeli kalau musim penghujan seperti ini, alasannya untuk menjaga kondisi tubuh,” ungkap Bu Untung, salah seorang pedagang Wedang Dongo saat ditemui Timlo.net, di warungnya di Jalan RE Martadinata, Solo, belum lama ini.

Wedang Dongo berbahan dari adonan tepung ketan dan garam yang dibentuk seperti kelereng yang di dalamnya diberi bubuk kacang yang telah ditumbuk kasar yang kemudian direbus bersama air jahe dan gula pasir. Biasanya bulatan tersebut diberi warna merah, hijau yang terbuat dari pasta pandan dan sebagian tetap dibiarkan putih dan disajikan bersama irisan kolang-kaling.

 

Sumber : https://web.facebook.com/Sehat.Sembuh.dengan.Makanan.Organik/posts/464475073609356?_rdc=1&_rdr

Dipublikasi di Artikel | Meninggalkan komentar

Makanan Khas Keraton Solo

Kuliner Belanda banyak mempengaruhi kuliner Solo, terutama pada hidangan kraton. Selain selat Solo, ada bistik galantin dan nasi jemblung yang dulu jadi favorit para raja.

Kota Solo memiliki dua istana raja yakni Kraton Kasunanan dan Pura Mangkunegaran. Keluarga kraton memiliki hubungan baik dengan negara Eropa, termasuk Belanda. Karenanya hidangan Belanda jadi salah satu menu sajian kraton untuk menjamu tamu pada masa itu. Seperti dirangkum detikFood (20/02), inilah beberapa hidangan kraton tersebut.

1. Bistik galantin
Bistik ini umum disajikan untuk para raja dan tamu istimewa kerajaan. Potongan daging cincang, sosis, roti, dan telur dicampur menjadi sebuah adonan yang kemudian dibentuk, dikukus, dan digoreng dengan margarin. Bistik galantin lalu diberi pelengkap potongan wortel, telur, tomat, kentang goreng, dan kacang polong. Sajian ini mendapat pengaruh budaya Belanda yang cukup kental.

2. Nasi londoh pindang
Nasi londoh pindang termasuk menu yang kerap disantap para bangsawan dan raja Solo di masa lalu. Sajian ini mirip perpaduan antara rawon dan sayur lodeh. Isiannya berupa campuran dua sayur, yakni pindang daging dan krecek (rambak kulit daging sapi) serta telur bebek rebus dengan sayur lodeh. Bubuk kedelai hitam lalu ditaburkan di atas nasi londoh pindang.

Salah satu restoran Solo yang masih menyajikan menu ini adalah Resto Roemahkoe milik juragan batik ternama, (alm.) Bapak Puspo Sumarto di Jl. Rajian No. 501, Laweyan.

Foto: detikFood

3. Selat Solo
Menyebut hidangan kraton Solo, tak bisa melewatkan selat solo. Salad ini memakai semur bergaya Jawa Belanda. Racikannya terdiri dari wortel rebus, buncis, telur (rebus/pindang), irisan tomat, keripik kentang/kentang goreng, dan bawang merah. Irisan daging sapi lalu ditambahkan untuk menyempurnakan selat Solo. Pelengkapnya tentu saja siraman kuah semur yang bercita rasa manis gurih.

Penjual selat Solo yang terkenal adalah Warung Selat Mbak Lies di Jalan Serengan Solo dan RM Kusuma Sari di Perempatan Nonongan.

Foto: mymagz.net

4. Nasi jemblung
Sajian nasi ini sangat menarik karena nasi dicetak bentuk melingkar dengan lubang di tengah. Lubang lalu diisi bistik (semur) lidah sapi yang empuk. Campuran rasa manis gurihnya membuat banyak orang ketagihan. Rasa gurih berasal dari pemakaian aneka rempah seperti pala, cengkeh, dan saus kenari.

Konon nasi jemblung termasuk menu kegemaran Paku Buwana X, raja terbesar dari Kraton Surakarta Hadiningrat. Menu ini juga dapat ditemui di Resto Roemahkoe.

Foto: detikFood

5. Bestik
Bestik mungkin tak sepopuler hidangan tradisional Solo lainnya. Hidangan ini diadaptasi dari kuliner Belanda yaitu Biefstuk yang berarti beefsteak atau steak daging sapi. Racikan bestik Jawa terdiri dari daun selada, potongan tomat, dan kentang serta wortel. Dagingnya berupa irisan halus tipis, nyaris seperti daging cincang. Kuahnya berwarna kecokelatan dengan rasa manis kecap.

Bila ingin mencicipnya, mampir saja ke Warung Harjo Bestik dan Bakmi di kawasan Dr Radjiman Timur perempatan pasar kembang, Solo.

 

Sumber : https://food.detik.com/read/2016/02/20/134024/3146871/297/galantin-dan-nasi-jemblung-hidangan-khas-kraton-solo

Dipublikasi di Artikel | Meninggalkan komentar

Kebudayaan dan Kesenian Keraton Surakarta

Solo atau yang biasa juga disebut kota Surakarta merupakan salah satu kota di daerah Jawa Tengah yang terkenal akan budayanya. Berikut ini adalah beberapa kebudayaan khas kota Solo.

Sekaten

Sekaten atau upacara Sekaten berasal dari kata Syahadatain atau dua kalimat syahadat) adalah acara peringatan ulang tahun nabi Muhammad SAW yang diadakan pada setiap tanggal 5 bulan Jawa Mulud (Rabiul Awal tahun Hijriah) di Alun-alun utara Surakarta dan Yogyakarta. Upacara ini dulunya dipakai oleh Sultan Hamengkubuwana I, pendiri keraton Yogyakarta untuk mengundang masyarakat mengikuti dan memeluk agama Islam.

Pada hari pertama, upacara diawali saat malam hari dengan iring-iringan abdi dalem (punggawa kraton) bersama-sama dengan dua set gamelan Jawa Kyai Nogowilogo dan Kyai Gunturmadu. Iring-iringan ini bermula dari pendapa Ponconiti menuju masjid Agung di Alun-alun Utara dengan dikawal oleh prajurit Kraton. Kyai Nogowilogo akan menempati sisi utara dari Masjid Agung, sementara Kyai Gunturmadu akan berada di Pagongan sebelah selatan masjid. Kedua set gamelan ini akan dimainkan secara bersamaan sampai dengan tanggal 11 bulan Mulud, selama 7 hari berturut-turut. Pada malam hari terakhir, kedua gamelan ini akan dibawa pulang ke dalam Kraton.

Acara puncak peringatan Sekaten ini ditandai dengan Grebeg Muludan yang diadakan pada tanggal 12 (persis di hari ulang tahun Nabi Muhammad SAW) mulai jam 08.00 hingga 10.00 WIB. Sebuah gunungan yang terbuat dari beras ketan, makanan, dan buah-buahan serta sayur-sayuan akan dibawa dari istana Kemandungan melewati Sitihinggil dan Pagelaran menuju masjid Agung. Setelah didoakan, gunungan yang melambangkan kesejahteraan kerajaan Mataram ini dibagikan kepada masyarakat yang menganggap bahwa bagian dari gunungan ini akan membawa berkah bagi mereka. Bagian gunungan yang dianggap sakral ini akan dibawa pulang dan ditanam di sawah/ladang agar sawah mereka menjadi subur dan bebas dari segala macam bencana dan malapetaka.
Grebeg Sudiro

Dalam menyambut Tahun Baru Imlek, masyarakat Solo keturunan Tionghoa-Jawa merayakan Grebeg Sudiro.

Kata grebeg berasal dari bahasa Jawa yang kerap digunakan untuk menyambut hari-hari khusus, seperti Kelahiran Nabi Muhammad, bulan Syawal, Idul Adha dan Suro. Sedangkan Sudiro diambil dari nama jalan tempat perayaan itu digelar, yaitu Jalan Sudiroprajan.

Kawasan Sudiroprajan merupakan sebuah kelurahan di Kecamatan Jebres, Kota Solo yang dihuni oleh warga Peranakan (Tionghoa). Mereka sudah puluhan tahun menetap dan tinggal berdampingan dengan masyarakat Jawa di sana.

Seiring berjalannya waktu, akhirnya warga keturunan Tionghoa dan masyarakat Jawa setempat banyak yang menikah. Dari perkawinan itulah akhirnya muncul generasi baru, yang menunjukkan akulturasi. Untuk itulah diciptakan perayaan Grebeg Sudiro.

Grebeg Sudiro dilangsungkan sejak 15 Februari sampai 18 Februari mendatang, sehari sebelum perayaan Tahun Baru Imlek. Kemeriahan perayaan ini dapat Anda rasakan di kawasan Pasar Gede, Solo.

Ada banyak hal yang bisa disaksikan dalam perayaan Grebeg Sudiro seperti kesenian barongsai, tarian, pakaian tradisional, adat keraton sampai kesenian kontemporer yang digelar di sepanjang Jalan Sudiroprajan. Arak-arakan tersebut akan berhenti di depan Klenteng Tien Kok Sie, di depan Pasar Gede.

Puncak perayaan Grebeg Sudiro dilakukan dengan perebutan hasil bumi dan makanan yang disusun dalam bentuk gunungan. Tradisi rebutan ini didasari oleh falsafah jawa berbunyi “ora babah ora mamah” yang artinya “jika tidak berusaha maka tidak makan.” Sedangkan bentuk gunung memiliki filosofi bahwa masyarakat Jawa senantiasa bersyukur pada Sang Pencipta.

Selain gunungan hasil bumi, gunungan Grebeg Sudiro juga ada yang disusun dari ribuan kue keranjang, kue khas orang Tionghoa saat menyambut Imlek. Gunungan itu diarak di sekitar Kawasan Sudiroprajan, diikuti dengan pawai dan kesenian Tionghoa serta Jawa.

Perayaan ini diakhiri dengan menyalakan lentera dan lampion berbentuk teko yang digantung dibatas gerbang Pasar Gede. Selain itu, penyalaan lampion juga dilakukan di tempat-tempat lainnya.

Solo Batik Carnival

Kota Solo dengan budayanya, mempunyai berbagai macam warisan budaya dan hasil tradisi, salah satunya adalah Batik. Sejarah panjang tentang eksistensi batik di kota ini sudah ada sejak zaman dahulu. Keberadaan kampung batik Laweyan dan Kauman sebagai bukti nyata tentang perkembangan batik di kota Bengawan.

Untuk melestarikan, mengembangkan, dan memperkenalkan batik kepada masyarakat luas, maka di Solo ada event tahunan berskala besar yakni Solo Batik Carnival (SBC). Beraneka ragam kreasi kostum yang disusun dari beragam corak batik diperagakan oleh kurang lebih 300 peserta tiap tahunnya.

SBC ini pertama kali digelar pada tahun 2008 dalam bentuk karnaval sepanjang jalan Slamet Riyadi. Berangkat dari Solo Center Point dan berakhir di Balaikota Surakarta, SBC telah berhasil menyedot perhatian ribuan warga Solo dan wisatawan dari berbagai kota di Indonesia. Kemudian SBC pun mulai dikenal luas dan menjadi salah satu ikon pariwisata negeri ini.

Tema SBC tiap tahun selalu berbeda. Mulai dari tema Wayang, Topeng, Sekar Jagad, Keajaiban Legenda, dan Metamorfosis. Tahun 2012 ini adalah tahun kelima penyelenggaraan SBC.

Dampak terhadap pariwisata dan perekonomian kota Solo sangat besar. Penyediaan paket tour wisata dari biro perjalanan, penginapan yang selalu penuh ketika SBC dihelat dan publikasi wisata kota Solo yang kian luas. Bahkan, pedagang kaki lima pun merasakan berkah dengan larisnya dagangan yang ia jajakan.

Sebagai ikon wisata baru kota Solo, SBC telah beberapa kali ditunjuk oleh Kementerian Pariwisata untuk mewakili Indonesia dalam ajang  internasional seperti Chingay Festival di Singapura, Malaysia Association of Tour and Travel Agents (Matta) Fair, dan SBC akan tampil di Tournament of the Rose Pasadena, California, Amerika Serikat pada 1 Januari 2013 mendatang.

Tari Bedhaya Ketawang

Tari Bedhaya Ketawang merupakan sebuah tari yang sangat disakralkan dan hanya digelar dalam waktu tertentu. Tari tradisional Solo ini dulunya hanya dimainkan oleh tujuh orang wanita saja. Namun saat ini, karena merupakan tarian yang sangat sakral dan istimewa maka harus dimainkan oleh sembilan penari. Delapan penari dari kalangan kerabat keraton dan konon, satu lagi dibawakan oleh sang Ratu Nyai Roro Kidul sebagai tanda hormat terhadap keturunan raja dinasti Mataram.

Tari tradisi Keraton Surakarta Hadiningrat ini dibagi 3 macam. Yakni, tari dengan sifat magis religius, lalu tari yang menampilkan peperangan seperti Supit Urang dan Garuda Nglayang dan yang terakhir sebagai tari yang mengandung cerita. Menurut Sinuhun Paku Buwono X, Tari Bedhaya Ketawang merupakan lambang cinta Ratu Kidul kepada Panembahan Senopati.

Masing-masing tari yang berasal dari keraton memiliki arti yang dalam dan dipadu dengan hal yang berhubungan dengan lelembut yang diyakini memiliki hubungan baik dengan keluarga keraton. Sehingga tarian disini memiliki hal mistis dan gaib yang sangat kuat.

Tarian ini diciptakan oleh penembahan Sanapati-Raja Mataram yang pertama dikala bersemadi di Pantai Selatan. Menurut kisah, sewaktu semedinya ia bertemu dengan Ratu Roro Kidul yang sedang menari dan kemudian mengajarkan tariannya pada penguasa Mataram ini.

Hal yang membuat tarian ini sangat sakral adalah persiapan pementasan yang mengharuskan para penari mengikuti beberapa aturan dan upacara. Malam sebelum tari ditampilkan, para penari harus tidur di Panti Satria, daerah yang paling suci di istana. Latihan harus dilakukan tiap Selasa Kliwon. Tari Bedhaya Ketawang hanya dilakukan setiap 8 tahun sekali, namun untuk tarian jenis acara keraton yang kecil hanya dilakukan ketika penobatan Raja atau Sultan.

 

Sumber : http://anisfebriyani.blogspot.co.id/2015/10/solo-atau-yang-biasa-juga-disebut-kota.html

Dipublikasi di Artikel | Meninggalkan komentar

Peninggalan Sejarah Keraton Surakarta

Sebagai kota yang sudah berusia hampir 250 tahun, Surakarta memiliki banyak kawasan dengan situs bangunan tua bersejarah. Selain bangunan tua yang terpencar dan berserakan di berbagai lokasi, ada juga yang terkumpul di sekian lokasi sehingga membentuk beberapa kawasan kota tua, dengan latar belakang sosialnya masing-masing.

Kraton Kasunanan Surakarta tentu saja adalah bangunan paling pokok dalam konsep penataan ruang Solo. Perencanaan kraton ini mirip dengan konsep yang digunakan dalam pembangunan Kraton Kesultanan Yogyakarta.

Solo merupakan salah satu kota pertama di Indonesia yang dibangun dengan konsep tata kota modern. Kraton yang dibangun berdekatan dengan Bengawan Solo selalu terancam banjir. Karena itu dibangunlah tanggul yang hingga kini masih dapat dilihat membentang dari selatan wilayah Jurug hingga kawasan Solo Baru.

Boulevard yang memanjang lurus dari arah barat laut menuju ke depan alun-alun istana (sekarang Jalan Slamet Riyadi) dirancang untuk mengarahkan pandangan ke arah Gunung Merbabu.

Terdapat pula pengelompokan pemukiman untuk warga pendatang. Kawasan Pasar Gede (Pasar Gedhe Hardjonagoro) dan Pasar Balong merupakan tempat perkampungan orang Tionghoa, sementara kawasan pemukiman orang Arab (kebanyakan dari Hadramaut) terletak di kawasan Pasar Kliwon.

Pedagang batik Jawa pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 banyak mendirikan usaha dan tempat tinggal di kawasan Laweyan (sekarang mencakup Kampung Laweyan, Tegalsari, Tegalayu, Tegalrejo, Sondakan, Batikan, dan Jongke). Di kawasan ini juga didirikan pertama kali organisasi bercorak Islam-nasional yang pertama di Indonesia oleh Haji Samanhudi, Syarikat Dagang Islam pada tanggal 16 Oktober 1905.[1] Bekas kejayaan para pedagang batik pribumi tempo doeloe ini bisa dilihat dari sejumlah rumah mewah di Jalan Dr. Rajiman. Di kawasan ini, mereka memang menunjukkan kejayaannya dengan berlomba membangun rumah besar yang mewah dengan arsitektur cantik namun terlindungi oleh pagar-pagar yang tinggi dengan gerbang (“regol”) yang besar.

Di dalam kompleks kraton terdapat perkampungan Kauman yang dulunya merupakan kompleks tempat tinggal para kaum ulama kerajaan dan kerabatnya. Kompleks ini terletak di belakang (barat) Masjid Agung keraton. Beberapa nama kampung di kawasan ini masih menunjukkan jejak tersebut, seperti Pengulon (dari kata “penghulu”), Trayeman, Sememen, Kinongan, Modinan, serta Gontoran. Perkampungan ini dipenuhi beragam arsitektur rumah gedung dengan ornamen hiasan dan model rumah gaya campuran Eropa-Jawa-Tiongkok. Awalnya, Kampung Kauman yang berada di sisi barat depan Keraton Kasunanan ini diperuntukkan bagi tempat tinggal (kaum) ulama kerajaan dan kerabatnya.

Kawasan Solo utara, yang ditata oleh pihak Mangkunagaran, juga memiliki jejak arsitektur yang banyak mendapat sentuhan Eropa. Bagian utara kota Solo dilewati oleh Kali Pepe, yang seperti Bengawan Solo juga berkali-kali menimbulkan bencana banjir. Pembangunan tanggul kali dan pintu air, saluran drainasi, MCK (mandi-cuci-kakus, yang pertama kali diterapkan), serta penempatan kantor kelurahan yang selalu berada pada perempatan jalan, merupakan beberapa jejak yang masih dapat dilihat sekarang, yang pembangunannya dilakukan pada masa pemerintahan Mangkunagara IV.

Militer

Benteng Vastenburg

Di kota Surakarta terdapat pula bekas peninggalan kolonial Belanda yaitu Benteng Vastenburg yang dulu digunakan sebagai pusat pengawasan kolonial Belanda untuk mengawasi gerak-gerik Keraton Kasunanan, namun sekarang keadaannya tidak terurus, di pusat kota Surakarta di dekat (sejalan dengan) Balaikota Surakarta. Dulu bangunan ini bernama “Grootmoedigheid” dan didirikan oleh Gubernur Jenderal Baron van Imhoff pada tahun 1745. Benteng ini dahulu merupakan benteng pertahanan yang berkaitan dengan rumah Gubernur Belanda. Benteng dikelilingi oleh kompleks bangunan lain yang berfungsi sebagai bangunan rumah tinggal perwira dan asrama perwira. Bangunan benteng ini dikelilingi oleh tembok batu bata setinggi enam meter dengan konstruksi bearing wall serta parit dengan jembatan angkat sebagai penghubung. Setelah kemerdekaan pernah berfungsi sebagai kawasan militer dan asrama bagi Brigade Infanteri 6/Trisakti Baladaya / Kostrad. Bangunan di dalam benteng dipetak-petak untuk rumah tinggal para prajurit dengan keluarganya.[2]

Gedung Brigade Infanteri

Gedung Brigade Infanteri merupakan bangunan yang dibangun untuk melengkapi kompleks benteng pertahanan Vastenburg.

Kantor Kodim

Dulunya terletak di Jalan Slamet Riyadi Surakarta, bangunan ini berkaitan erat dengan Loji Gandrung sebagai rumah komandan pasukan Belanda dan Benteng Vastenburg sebagai pusat pertahanan tentara Belanda di wilayah Surakarta. Sejak beberapa tahun terakhir, kantor Kodim yang baru berada di Jalan Ahmad Yani, sementara kantor yang lama dikembalikan ke pemilik. Setiawan Jodi pernah memiliki kantor kodim ini. Sekitar tahun 2004, gedung ini diambil alih kepemilikannya oleh Bp. Nur Harjanto Doyoatmojo, dan direstorasi dikembalikan ke bentuk dan desain aslinya, dan saat ini menjadi kediaman pribadi diberi nama Ndalem Doyoatmojo

Tempat Umum

Balaikota Surakarta

Balaikota Surakarta

Pasar Gedhe Hardjonagoro

Pasar Gede Hardjonagoro

Pada zaman kolonial Belanda, Pasar Gedhe merupakan sebuah pasar “kecil” yang didirikan di area seluas 10.421 meter persegi, berlokasi di persimpangan jalan dari kantor gubernur yang sekarang digunakan sebagai Balaikota Surakarta. Bangunan ini di desain oleh arsitek Belanda bernama Ir. Thomas Karsten yang selesai pembangunannya pada tahun 1930 dan diberi nama Pasar Gede Hardjanagara. Diberi nama Pasar Gedhe karena terdiri dari atap yang besar (Gedhe artinya besar dalam bahasa Jawa). Seiring perkembangan waktu, pasar ini menjadi pasar terbesar dan termegah di Surakarta.

Awalnya pemungutan pajak (retribusi) dilakukan oleh abdi dalem Kraton Surakarta. Mereka mengenakan pakaian tradisional Jawa berupa jubah dari kain (lebar dan panjang dari bahan batik dipakai dari pinggang ke bawah), beskap (semacam kemeja), dan blangkon (topi tradisional). Pungutan pajak kemudian akan diberikan ke Keraton Kasunanan.

Pasar Gedhe terdiri dari dua bangunan yang terpisah, masing masing terdiri dari dua lantai. Pintu gerbang di bangunan utama terlihat seperti atap singgasana yang bertuliskan ‘PASAR GEDHE.

Arsitektur Pasar Gedhe merupakan perpaduan antara gaya Belanda dan gaya tradisional. Pada tahun 1947, Pasar Gedhe mengalami kerusakan karena serangan Belanda. Pemerintah Indonesia kemudian merenovasi kembali pada tahun 1949. Perbaikan atap selesai pada tahun 1981. Pemerintah Indonesia mengganti atap yang lama dengan atap dari kayu. Bangunan kedua dari pasar gedhe, digunakan untuk kantor DPU yang sekarang digunakan sebagai pasar buah.[3]

Pasar Klewer

Gapura Kraton dan Pasar Klewer (tampak belakang)

Pasar Klewer merupakan salah satu pasar batik terbesar di Indonesia. Pasar ini terletak di dekat Keraton Kasunanan dan di seberang Masjid Agung Surakarta

Rumah Sakit Kadipolo

Rumah Sakit Kadipolo terletak di jalan Dr. Radjiman dengan luas lahan sekitar 2,5 Ha. Rumah sakit ini didirikan pada masa pemerintahan Sunan Paku Buwono X.

Pada mulanya bangunan ini dibangun khusus untuk poliklinik para abdi dalem kraton. Karena masalah biaya, pada tahun 1948 pengolahannya diserahkan kepada Pemda Surakarta disatukan dengan pengolahan Rumah Sakit Mangkubumen dan Rumah Sakit Jebres. Namun dengan syarat bahwa keluarga kraton dan pegawai kraton yang dirawat di rumah sakit tersebut mendapat keringanan pembiayaan. Tahun 1960 pihak keraton menyerahkan Rumah Sakit Kadipolo sepenuhnya termasuk investasi bangunan berikut seluruh pegawai dan perawatnya kepada Pemda Surakarta.

Tanggal 1 Juli 1960 mulai dirintis penggabungan Rumah Sakit Kadipolo dengan Rumah Sakit Jebres dan Rumah Sakit Mangkubumen di bawah satu direktur yaitu dr. Sutedjo. Kemudian masing-masing rumah sakit mengadakan spesialisasi, RS. Jebres untuk anak-anak, RS. Kadipolo untuk penyakit dalam dan kandungan serta RS. Mangkubumen untuk korban kecelakaan.

1 Agustus 1976 diadakan pemindahan pasien dari RS. Kadipolo ke RS. Mangkubumen sebagai persiapan berdirinya SPK (Sekolah Pendidikan Keperawatan). Pemindahan pasien selesai sampai awal April 1977.

24 April 1977 SPK resmi berdiri dengan menempati bangunan RS. Kadipolo.

Kampus SPK hanya bertahan 5 tahun karena Februari 1982 Depkes Pusat memerintahkan untuk mengosongkan RS. Kadipolo untuk dipindah ke kawasan Mojosongo.

Sejak tahun 1985 bangunan tersebut menjadi milik klub sepak bola Arseto sebagi tempat tingal dan mess bagi para pemain Arseto Solo. Namun kini sebagian besar bangunan dibiarkan kosong tak terawat.[4]

= Gedung Pengadilan Tinggi Agama

BANGUNAN INI LEBIH TERKENAL DENGAN SEBUTAN BANGUNAN GEDUNG PENGADILAN TINGGI AGAMA. Merupakan bangunan peninggalan masa kolonial.[5]

Gedung pengadilan tinggi agama merupakan salah satu bangunan bersejarah yang sering beralih fungsi. tahun pendirian GPTA ini belum diketahui secara pasti, hal ini dikarenakan hilangnya monumen pendirian bangunan. fungsi pertama kali digunakan sebagai rumah tinggal oleh NOGTJIK, seorang peranakan tionghoa. tujuan pendirian bangunan untuk memperoleh kesetaraan pengakuan. setelah itu bangunan dibeli oleh saudagar kalimantan selatan, seorang saudagar yang sukses dengan jual beli emas.

bangunan ini kemudian beralih fungsi menjadi SEKOLAH – 1. Mambaul ulum tahun 1931 pada masa pemerintahan PAKU BUWONO X (1893-1939). setelah surakarta berada dibawah pemerintahan RI tahun 1952, bangunan berubah nama menjadi 2. SEKOLAH GURU AGAMA oleh kementrian agama RI berubah menjadi 3. PENDIDIKAN GURU AGAMA ATAS DAN PERTAMA.

bangunan ini berubah fungsi lagi menjadi KANTOR 1. Mahkamah Islam Tinggi pada tahun 1970 dan 2. Pengadilan Tinggi Agama pada tahun 1973

karena berpindahnya pusat pemerintahan yang berada di Jakarta, bangunan ini beralih fungsi kembali menjadi bangunan SEKOLAH dengan nama MAN 2 Surakarta tahun 1992 sampai sekarang.

sampai saat ini, keberadaan bangunan baik dari arsitektur maupun interior masih dalam kondisi terawat dan dilindungi oleh dinas KEPURBAKALAN jawa tengah.

Kantor Pertani

Berdiri tahun 1908 sebagai bangunan rumah tinggal seorang bangsawan Tionghoa yang dekat dengan kerabat Keraton. Pernah digunakan sebagai tempat usaha batik oleh pedagang Lawiyan. Tahun 1978 dialihfungsikan sebagai kantor PT. Pertani yang melayani bidang administrasi perkantoran. Mempunyai banyak kesamaan detail arsitektur dengan Gedung Veteran, Loji Gandrung dan Bekas Kantor DPU.

Bank Indonesia

Bank Indonesia Solo

Dulu bernama Javasche Bank. Merupakan kantor cabang karya arsitek Hulswit, Fermont dan Ed. Cuipers dengan standart gaya neoklasik. Sekelompok pemuda pernah menggunakan gedung ini untuk menculik PM Syahrir pada masa revolusi.

Tempat Ibadah

Masjid Agung Kraton Surakarta

Masjid Agung Kraton Surakarta (nama resmi bahasa Jawa: Masjid Ageng Karaton Surakarta Hadiningrat) pada masa prakemerdekaan merupakan Masjid Agung Kerajaan (Surakarta Hadiningrat). Semua pegawai masjid tersebut merupakan abdi dalem keraton, dengan gelar seperti Kanjeng Raden Tumenggung Penghulu Tafsiranom (penghulu) dan Lurah Muadzin.

Masjid Agung dibangun oleh Sunan Pakubuwono III tahun 1763 dan selesai pada tahun 1768. Menempati lahan seluas 19.180 meter persegi, kawasan masjid dipisahkan dari lingkungan sekitar dengan tembok pagar keliling setinggi 3,25 meter.

Di masjid inilah kegiatan festival tahunan Sekaten dipusatkan.

Masjid Mangkoenegaran

Pendirian Masjid Mangkunagaran diprakarsai oleh Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunagara I di Kadipaten Mangkunagaran sebagai masjid Lambang Panotogomo.

Sebelumnya terletak di wilayah Kauman, Pasar Legi, namun pada masa Adipati Mangkunagara II dipindah ke wilayah Banjarsari dengan pertimbangan letak masjid yang strategis dan dekat kepada Pura Mangkunagaran.

Pengelolaan masjid dilakukan oleh para abdi dalem Pura Mangkunagaran, sehingga status masjid merupakan Masjid Pura Mangkunagaran.

Pemugaran besar-besaran atas Masjid Mangkunagaran terjadi pada saat pemerintahan Adipati Mangkunagara VII, pada saat itu Mangkunagara VII meminta seorang arsitek dari Prancis untuk ikut serta mendesain bentuk masjid ini.

Luas kompleks masjid sekitar 4.200 meter persegi dengan batas pagar tembok keliling sebagian besar di muka berbentuk lengkung.

Masjid Mangkunagaran terdiri dari:

  • Serambi: merupakan ruangan depan masjid dengan saka sebanyak 18 yang melambangkan umur Raden Mas Said (Mangkunagara I) ketika keluar dari Keraton Kasunan Surakarta untuk dinobatkan sebagai Adipati Mangkunagaran. Di serambi terdapat bedug yang bernama Kanjeng Kyai Danaswara.
  • Maligin: dibangun atas prakarsa Adipati Mangkunagara V, digunakan untuk melaksanakan khitanan bagi putra kerabat Mangkunagaran. Sejak pemerintahan Mangkunagara VII Maligin diperkenankan untuk digunakan oleh Muhammadiyah sebagai tempat khitanan masyarakat umum.
  • Ruang Salat Utama: merupakan ruang dalam dengan 4 soko guru dan 12 penyangga pembantu yang berhias huruf kaligrafi Alquran.
  • Pawasteren: merupakan bangunan tambahan yang dipergunakan untuk tempat salat khusus wanita.
  • Menara: dibangun tahun 1926 pada masa Mangkunagara VII. Digunakan untuk menyuarakan adzan, pada saat itu dibutuhkan 3-4 orang muadzin untuk adzan bersama-sama dalam menara ke 4 arah yang berbeda.

Saat ini Masjid Mangkunagaran bernama Al-Wustho, diberi nama demikian pada tahun 1949 oleh Bopo Penghulu Pura Mangkunagaran Raden Tumenggung K.H. Imam Rosidi. Masjid Mangkunagaran merupakan masjid yang cukup unik karena di sini dapat dilihat hiasan kaligrafi Alquran di berbagai tempat, seperti pada pintu gerbang, pada markis/kuncungan, soko dan Maligin.

Masjid Laweyan

Masjid Laweyan dibangun pada masa Djoko Tingkir sekitar tahun 1546. Merupakan masjid pertama di Kerajaan Pajang.

Awalnya merupakan pura agama Hindu dengan seorang biksu sebagai pemimpin. Namun dengan pendekatan secara damai, seiring dengan banyaknya rakyat yang mulai memeluk agama Islam, bangunan diubah fungsinya menjadi Masjid.

Bersamaan dengan itu, tumbuh sebuah pesantren dengan jumlah pengikut yang lumayan banyak. Konon karena banyaknya santri, pesantren ini tidak pernah berhenti menanak nasi untuk makan para santri sehingga selalu keluar asap dari dapur pesantren dan disebutlah wilayah ini sebagai Kampung Belukan (beluk = asap).

Pemilik masjid ini adalah Kyai Ageng Henis (kakek dari Susuhunan Paku Buwono II). Seperti layaknya sebuah masjid, Masjid Laweyan berfungsi sebagai tempat untuk nikah, talak, rujuk, musyawarah, dan makam.

Kompleks masjid menjadi satu dengan makam kerabat Keraton Pajang, Kartasura dan Kasunanan Surakarta.

Pada makam terdapat pintu gerbang samping yang khusus dibuat untuk digunakan oleh Sunan Paku Buwono X untuk ziarah ke makam dan hanya digunakan 1 kali saja karena 1 tahun setelah kunjungan itu dia wafat.

Beberapa orang yang dimakamkan di tempat itu di antaranya adalah:

  • Kyai Ageng Henis
  • Susuhunan Paku Buwono II yang memindahkan Keraton Kartasura ke Desa Sala hingga menjadi Keraton Kasunanan Surakarta. Konon Paku Buwono II ingin dimakamkan dekat dengan Kyai Ageng Henis dan bertujuan untuk menjaga Keraton Kasunanan Surakarta dari serangan musuh.
  • Permaisuri Paku Buwono V
  • Pangeran Widjil I Kadilangu sebagai Pujangga Dalem Paku Buwono II-Paku Buwono III yang memprakarsai pindahnya Keraton dari Kartasura ke Surakarta.
  • Nyai Ageng Pati
  • Nyai Pandanaran
  • Prabuwinoto anak bungsu dari Paku Buwono IX.
  • Dalang Keraton Kasunanan Surakarta yang menurut legenda pernah diundang oleh Nyi Roro Kidul untuk mendalang di Laut Selatan.
  • Kyai Ageng Proboyekso, yang menurut legenda merupakan jin Laut Utara yang bersama pasukan jin ikut membantu menjaga keamanan Kerajaan Kasunanan Surakarta.

Di makam ini terdapat tumbuhan langka Pohon Nagasari yang berusia lebih dari 500 tahun yang merupakan perwujudan penjagaan makam oleh naga yang paling unggul. Selain itu pada gerbang makam terdapat simbolisme perlindungan dari Betari Durga. Makam direnovasi oleh Paku Buwono X bersamaan dengan renovasi Keraton Kasunanan. Sebuah bangunan semacam pendapa yang diangkat dari pindahan Keraton Kartasura.

c-law-prasasti1.JPG

Pada makam terdapat pintu gerbang samping yang khusus dibuat untuk digunakan oleh PB X untuk ziarah ke makam dan hanya digunakan 1 kali saja karena 1 tahun setelah kunjungan itu dia wafat.

Geredja Katholik Antonius

Gereja Katolik Santo Antonius Surakarta merupakan gereja tertua di Surakarta yang didirikan tahun 1905. Memiliki skala bangunan yang besar, bangunan ini belum pernah berubah bentuk dan fungsinya hingga hari ini.

Tempat Ibadah Tri Dharma Tien Kok Sie

Klenteng yang terletak di Jalan R.E Martadinata no.12 ini pada awalnya berada di Kartasura, sebelum kemudian Keraton Kartasura dipindahkan ke Surakarta pada tahun 1745. Kelenteng ini kemudian juga pindah ke Solo dan didirikan bersamaan dengan pembangunan Kraton Surakarta. Walaupun merupakan tempat ibadah Tri Dharma, tapi sebutan kelenteng berubah menjadi “wihara” Avalokitheswara pada tahun 1965 sebagai imbas dari situasi politik pada saat itu.

Kelenteng Tien Kok Sie menempati lahan seluas ±250m², dan terdiri dari ruang pelataran depan, Ruang Thia, Ruang Sien Bing, dan bangunan rumah tangga penjaga kelenteng. Ruang Thia dan Ruang Sien Bing merupakan ruang pemujaan yan gberisi beberapa altar dan meja untuk persembahan kepada para dewa.

Kelenteng Tien Kok Sie pada awalnya dibangun untuk rumah ibadah golongan Tionghoa pribumi keluarga Keraton. Atas keputusan pemerintah kota Surakarta, kelenteng in imasuk ke dalam daftar Benda Cagar Budaya Surakarta[6]

Vihara Am Po Kian

Vihara Am Po Kian didirikan tanggal 24 Agustus 1875 dan mengalami perbaikan pada tanggal 14 Agustus 1944. Dulu merupakan bangunan kuil milik seorang biksu dengan adu ilmu akhirnya bangunan ini dapat dikuasai oleh Kyai Ageng Henis (Kakek dari Raja-raja Mataram) dan diubah fungsikan menjadi masjid. Di dalam kawasan ini pula Kyai Ageng Henis beserta keluarganya dimakamkan. Pada halaman tengah makam terdapat pendapa tempat menikahkan raja pada masa kerajaan Kartasura. Saat ini tempat tersebut digunakan sebagai tempat persiapan ziarah/istirahat.

Peninggalan Bersejarah

Dalem Poerwadiningratan

Dalem Purwodiningratan terletak di lingkungan dalam Keratonan, Baluwarti dan merupakan bangunan dalem yang terluas, terbesar dengan pagar tertinggi di lingkungan itu (90m x 100m atau sekitar 1 Ha).

Bangunan ini dibuat oleh Sunan Paku Buwono IV bersamaan dengan dibangunnya Dalem Suryohamijayan dan Dalem Sasonomulyo. Ketika Dalem Poerwadiningratan selesai dibangun, Sinuhun PB IV berkenan untuk mengadakan Lenggah Sinoko (sidang pemerintahan dihadapan para menteri) di bangunan tersebut.

Dalem ini kemudian diserahkan kepada Kanjeng Ratu Pembayun yang dinikahi oleh KGPH Mangkubumi II, kemudian diwariskan kepada KPH Riyo Atmodjo. Putra dia yang mendapatkan hak waris atas dalem adalah Kanjeng Raden Mas Haryo Purwodiningrat Sepuh dan kemudian pada putranya lagi Kanjeng Raden Mas Tumenggung Haryo Purwodiningrat.

Demikian hingga kawasan ini bernama Poerwadiningratan. (Menurut aturan Jawa, Dalem diberi nama sesuai dengan pemilik terakhir bangunan). Sampai sekarang Dalem Poerwodiningratan dimiliki oleh segenap keluarga keturunan Poerwadiningrat.

Rumah Jawa merupakan pencerminan diri pemilik-nya oleh karena itu seringkali pamor rumah Jawa akan berangsur-angsur turun atau hilang setelah pemiliknya meninggal dunia.

Kanjeng Raden Mas Tumenggung Haryo Poerwodiningrat adalah seorang Bupati Keraton Kasunanan Surakarta yang pernah menjabat sebagai penguasa Sriwedari. Seorang dengan wibawa besar yang tercermin dari dalem yang dimilikinya.

Pengaruh ini dirasakan menurun ketika dia wafat (sesuai peribahasa Jawa Yen ditinggal Ibu ora kopen ning yen ditinggal Bapak ora kajen). Ini tercermin dari kebiasaan-kebiasaan penghormatan terhadap bangunan yang telah berubah. Misalnya kendaraan yang berlalu-lalang disekitar pendopo atau masuk pendopo tanpa melepas alas kaki.

Pada zaman KRTH Poerwodiningrat, pendatang yang masuk ke lingkungan dalem berjalan kaki bahkan berjalan jongkok di pendopo untuk menghormat. Halaman pendopo ditutup pasir untuk area duduk para abdi dalem yang sowan, dan ada tempat penyimpanan payung-payung untuk para tamu.

Seiring dengan berfungsinya bangunan sebagai kantor Departemen Pertanian dan Kehakiman (1947) kebiasaan ini mulai ditiadakan. Dalem Poerwodiningratan juga pernah digunakan sebagai SMP, SMA, SGA dari Yayasan Pendidikan Tjokroaminoto (sekitar tahun 1950–1960).

Poerwodiningratan juga mempunyai urutan ruang seperti halnya bangunan tradisional Jawa dengan paviliun di sekelilingnya. Paviliun kini ditinggali oleh keluarga Poerwadiningrat.

Dengan dasar (warah/petuah) filosofi dari Sunan Paku Buwono X bahwa “Budoyo Jowo iku ora bedo karo pusoko kadatone, lamun dipepetri bakal hamberkahi nanging lamun siniosio bakal tuwuh haladipun” yang kurang lebih berarti budaya Jawa itu sama dengan pusaka keraton jika dihormati akan memberi berkah, namun jika disia-sia akan memberi hukuman. Untuk itu setiap malam Jumat dalem pringgitan diberi sesajian dengan persyaratan-persyaratan tertentu. Demikian pula pada tanggal 1 bulan Jawa dan setiap tahun pada bulan Sapar untuk memperingati berdirinya bangunan tersebut.

Layaknya bangunan kuno di Jawa, pada bangunan ini sering terjadi hal-hal aneh yang bersifat mistik terutama bila sesajian lupa disajikan di dalam pendopo.

Parmadi Poetri

Berdiri Januari 1927 atas prakarsa pemerintahan Kasunanan dengan nama HIS (Hollandsch-Inlandsche School) Pamardi Putri. Semula digunakan untuk putri kerabat dekat kasunanan. Sebuah bangunan yang berfungsi sama namun digunakan untuk lelaki bernama Gedung Ksatriyan.

Gedung Veteran

Dikenal juga dengan sebutan Gedung Lowo. Awalnya bangunan ini digunakan sebagai rumah tinggal bangsawan/pejabat Belanda. Tahun 1945 gedung ini dihuni oleh keluarga Djian Ho. Gedung ini terletak di jalan Slamet Riyadi dengan bentuk khas arsitektur kolonial untuk sebuah bangunan rumah tinggal.

Setelah merdeka gedung ini diserahkan kepada Pemerintah Indonesia dan digunakan sebagai Gedung Veteran. Pemugaran besar yang berarti tanpa mengubah bentuk asli bangunan pernah dilakukan pada tahun 1983-1985.

Broederan Poerbayan

Bruderan dan Susteran Purbayan merupakan tempat pendidikan sekaligus asrama bagi para Bruder dan suster. Didirikan pada zaman penjajahan Belanda tahun 1921/1922.

Taman

Taman Balekambang

Taman Sriwedari

Benda Cagar Budaya

Berdasarkan Surat Keputusan Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II Surakarta Nomor 646 Tahun 1997 Tentang Penetapan Bangunan-Bangunan dan Kawasan Kuno Bersejarah di Kotamadya Surakarta yang Dilindungi Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1992 Tentang Benda Bagar Budaya, maka terdapat 70 objek di Solo yang masuk kategori cagar budaya[7][8][9][10]:

Dari ke-70 BCB tersebut, 11 di antaranya kemudian dinyatakan belum layak masuk daftar BCB, karena usianya masih kurang dari 50 tahun.[11] BCB yang dicoret tersebut yaitu Taman Satwa Taru Jurug (TSTJ), Monumen Banjarsari, Patung Gatot Subroto, Monumen Pasar Nongko, Monumen Sondakan, Monumen Bhayangkara Panularan, Patung Ganesha, Makam Putri Cempa, Patung Slamet Riyadi, Tugu Talirogo, serta Monumen Gerilya.

 

Sumber : https://id.wikipedia.org/wiki/Arsitektur_dan_peninggalan_sejarah_di_Surakarta

Dipublikasi di Artikel | Meninggalkan komentar