Tarian Tradisional Khas Keraton Surakarta

Tarian merupakan bagian yang menyertai perkembangan pusat baru ini. Ternyata pada masa kerajaan dulu tari mencapai tingkat estetis yang tinggi. Jika dalam lingkungan rakyat tarian bersifat spontan dan sederhana, maka dalam lingkungan istana tarian mempunyai standar, rumit, halus, dan simbolis. Jika ditinjau dari aspek gerak, maka pengaruh tari India yang terdapat pada tari-tarian istana Jawa terletak pada posisi tangan, dan di Bali ditambah dengan gerak mata.

Surakarta merupakan pusat seni tari. Sumber utamanya terdapat di Keraton Surakarta dan di Pura Mangkunegaran. Dari kedua tempat inilah kemudian meluas ke daerah Surakarta seluruhnya dan akhirnya meluas lagi hingga meliputi daerah Jawa Tengah, terus sampai jauh di luar Jawa Tengah. Seni tari yang berpusat di Kraton Surakarta itu sudah ada sejak berdirinya Kraton Surakarta dan telah mempunyai ahli-ahli yang dapat dipertanggungjawabkan. Tokoh-tokoh tersebut umumnya masih keluarga Sri Susuhunan atau kerabat kraton yang berkedudukan. Seni tari yang berpusat di Keraton Surakarta itu kemudian terkenal dengan Tari Gaya Surakarta.

Sahabat GWI Indonesia Banget, akan diketengahkan hanya beberapa tarian klasik yang bersumber atau pusat Seni Tari dari Keraton Kasunanan dan Keraton Pura Mangkunegaran.

Tari Bedaya Ketawang

Tari Bedaya Ketawang Surakarta (https://www.kompasiana.com)

Bedhaya Ketawang terdiri dari kata Bedhaya dan Ketawang. Bedhaya artinya penari wanita di Istana. Ketawang berasal dari kata ‘tawang’ yang berarti bintang di langit. Tarian ini sangat kental dengan budaya Jawa dan dianggap sakral. Tari yang digelar satu tahun sekali ini diperagakan oleh sembilan perempuan dengan tata rias seperti pengantin Jawa. Sembilan pernari tersebut memiliki sebutan masing-masing, yaitu: Batak, Endhel Ajeg, Endhel Weton, Apit Ngarep, Apit Mburi, Apit Meneg, Gulu, Dhada, Dan Boncit. Nomor sembilan juga dapat direpresentasikan sebagai konstelasi bintang-bintang dari arti Ketawang.

Bedhaya Ketawang adalah tarian yang dicipta oleh Raja Mataram ketiga, Sultan Agung (1613-1646) dengan berlatar belakang mitos percintaan antara raja Mataram pertama, Panembahan Senopati, dengan Dewi Laut Selatan, bernama Ratu Kencanasari atau biasa disebut Kanjeng Ratu Kidul – sebutan di kalangan masyarakat Jawa.

Fokus dari tarian ini adalah pada adegan cinta antara Ratu Kencanasari dengan Panembahan Senopati. Musik yang mengiringi tarian ini terdiri dari lima instrumen, yaitu kemanak, kethuk, kenong, kendhang, dan gong serta diiringi suara dari sinden.

Jenis

Berbagai jenis tari Bedhaya yang belum mengalami perubahan.

  • Bedhaya Ketawang, lama tarian 130 menit
  • Bedhaya Pangkur, lama tarian 60 menit
  • Bedhaya Duradasih, lama tarian 60 menit
  • Bedhaya Mangunkarya, lama tarian 60 menit
  • Bedhaya Sinom, lama tarian 60 menit
  • Bedhaya Endhol-endhol, lama tarian 60 menit
  • Bedhaya Gandrungmanis, lama tarian 60 menit
  • Bedhaya Kabor, lama tarian 60 menit
  • Bedhaya Tejanata, lama tarian 60 menit

Bedhaya garapan baru

  • Bedhaya La la, lama tarian 15 menit
  • Bedhaya To lu, lama tarian 12 menit
  • Bedhaya Alok, lama tarian 15 menit

Tari Serimpi

Tari Serimpi (https://www.pegipegi.com)

Tari Serimpi telah ada sejak Prabu Amiluhur ketika masuk ke Kraton mendapat perhatian pula. Tarian yang ditarikan 4 putri itu masing-masing mendapat sebutan : air, api, angin dan bumi atau tanah, yang selain melambangkan terjadinya manusia juga melambangkan empat penjuru mata angin. Sedang nama peranannya Batak, Gulu, Dhada dan Buncit.

Komposisinya segi empat yang melambangkan tiang Pendopo. Seperti Bedhaya, tari Srimpipun ada yang suci atau sakral yaitu Srimpi Anglir Mendhung. Juga karena lamanya penyajian (60 menit) maka untuk konsumsi masa kini diadakan inovasi.

Contoh Serimpi hasil garapan baru

  • Serimpi Anglirmendhung, lama tarian menjadi 11 menit
  • Serimpi Gondokusumo, lama tarian menjadi 15 menit

Beksan Gambyong

Beksan Gambyong di Keraton Pura Mangkunegaran (https://risalahpejalan.tumblr.com)

Berasal dari tari Glondrong yang ditarikan oleh Nyi Mas Ajeng Gambyong. Menarinya sangat indah ditambah kecantikan dan modal suaranya yang baik, akhirnya Nyi Mas itu dipanggil oleh Bangsawan Kasunanan Surakarta untuk menari di Istana sambil memberi pelajaran kepada para putra/i Raja. Oleh Istana tari itu diubah menjadi tari Gambyong.

Keunikan tarian ini terletak pada selarasnya gerakan para penari dengan irama gending dan kendang yang dimainkan. Gending yang selalu mengawali tarian ini adalah gending pangkur, sedangkan alat musik yang dimainkan selain kendang antara lain gender, kempul,kenong, dan gong.

Selain sebagai hiburan, tari ini sering juga ditarikan untuk menyambut tamu dalam upacara peringatan hari besar dan perkawinan.

Ciri-ciri Tari ini

  • Jumlah penari seorang putri atau lebih
  • Memakai jarit wiron
  • Tanpa baju melainkan memakai kemben atau bangkin
  • Tanpa jamang melainkan memakai sanggul atau gelung
  • Dalam menari boleh dengan sindenan (menyanyi) atau tidak

Beksan Wireng

Berasal dari kata Wira (perwira) dan ‘Aeng’ yaitu prajurit yang unggul, yang ‘aeng’, yang ‘linuwih’. Tari ini diciptakan pada jaman pemerintahan Prabu Amiluhur dengan tujuan agar para putra beliau tangkas dalam olah keprajuritan dengan menggunakan alat senjata perang. Sehingga tari ini menggambarkan ketangkasan dalam latihan perang dengan menggunakan alat perang.

Ciri-ciri tarian ini

  • Ditarikan oleh dua orang putra/i
  • Bentuk tariannya sama
  • Tidak mengambil suatu cerita
  • Tidak menggunakan ontowacono (dialog)
  • Bentuk pakaiannya sama
  • Perangnya tanding, artinya tidak menggunakan gending sampak atau srepeg, hanya iramanya atau temponya kendho atau kencang
  • Gending satu atau dua, artinya gendhing ladrang kemudian diteruskan gendhing ketawang
  • Tidak ada yang kalah atau menang atau mati

Tari Pethilan

Hampir sama dengan Tari Wireng. Bedanya Tari Pethilan mengambil adegan atau bagian dari cerita pewayangan.

Ciri-cirinya Tarian

  • Tari boleh sama, boleh tidak
  • Menggunakan ontowacono (dialog)
  • Pakaian tidak sama, kecuali pada lakon kembar
  • Ada yang kalah atau menang atau mati
  • Perang mengguanakan gendhing srepeg, sampak, gangsaran
  • Memetik dari suatu cerita lakon

Contoh dari Pethilan

Tari Bambangan Cakil

Tari Bambangan Cakil (https://plus.google.com)

Merupakan sebuah tari yang mengandung nilai filosofi tinggi dimana kejahatan, kesombongan, kecongkakan dan sebagainya tidak ada artinya karena akan tertumpas habis oleh kebaikan.

Tari ini sebenarnya diadopsi dari salah satu adegan yang ada dalam pementasan Wayang Kulit yaitu adegan Perang Kembang. Tari ini menceritakan perang antara ksatria melawan raksasa. Ksatria adalah tokoh yang bersifat halus dan lemah lembut, sedangkan Raksasa menggambarkan tokoh yang kasar dan bringas. Didalam pementasan wayang Kulit, adegan perang kembang ini biasanya keluar tengah-tengah atau di Pathet Sanga. Perang antara Ksatria (Bambangan) melawan raksasa ini sangat atraktif, dalam adegan ini juga bisa digunakan sebagai tempat penilaian seorang dalang dalam menggerakkan wayang.

Tari ini merupakan (petikan) drama wayang orang, berasal dari Surakarta yang diambil dari Epos Mahabarata. Bentuk tarinya dapat juga disebut sebagai Wireng. Karena ditarikan tanpa menggunakan antawacana (percakapan).Tarian ini menggambarkan adegan peperangan antara seorang ksatria Pandawa, melawan Cakil (seorang tokoh raksasa). Istilah Bambangan digunakan untuk menyebut para ksatria keluarga Pandawa, yang dalam tarinya mempergunakan ragam tari halus yang dipakai untuk tokoh ksatria seperti Abimanyu, Sumitra dan sebagainya.

– Hanila – Prahasta, dan lain-lain

Tari Golek

Tari ini berasal dari Yogyakarta. Pertama dipentaskan di Surakarta pada upacara perkawinan KGPH. Kusumoyudho dengan Gusti Ratu Angger tahun 1910. Selanjutnya mengalami persesuaian dengan gaya Surakarta. Tari ini menggambarkan cara-cara berhias diri seorang gadis yang baru menginjak masa akhil baliq, agar lebih cantik dan menarik.

Macam-macamnya

  • Golek Clunthang iringan Gendhing Clunthang
  • Golek Montro iringan Gendhing Montro
  • Golek Surungdayung iringan Gendhing Ladrang Surungdayung, dan lain-lain.

Tari Bondan

Tarian ini menggambarkan kasih sayang seorang ibu terhadap anaknya. Boneka mainan, payung, kendi, dan properti lainnya adalah ciri khas tarian yang dahulu diwajibkan pada setiap kembang desa di daerah Solo ini.

Tari ini dibagi menjadi:

  • Bondan Cindogo
  • Bondan Mardisiwi
  • Bondan Pegunungan atau Tani

Tari Bondan Cindogo dan Mardisiwi merupakan tari gembira, mengungkapkan rasa kasih sayang kepada putranya yang baru lahir. Tapi Bondan Cindogo satu-satunya anak yang ditimang-timang akhirnya meninggal dunia. Sedang pada Bondan Mardisiwi tidak, serta perlengakapan tarinya sering tanpa menggunakan kendhi seperti pada Bondan Cindogo.

Ciri pakaiannya

  • Memakai kain Wiron
  • Memakai Jamang
  • Memakai baju kotang
  • Menggendong boneka, memanggul payung
  • Membawa kendhi (dahulu), sekarang jarang

Untuk gendhing iringannya Ayak-ayakan diteruskan Ladrang Ginonjing. Tapi sekarang ini menurut kemampuan guru atau pelatih tarinya. Sedangkan Bondan Pegunungan, melukiskan tingkah laku putri asal pegunungan yang sedang asyik menggarap ladang, sawah, tegal pertanian. Dulu hanya diiringi lagu-lagu dolanan tapi sekarang diiringi gendhing-gendhing lengkap.

Ciri pakaiannya

  • Mengenakan pakaian seperti gadis desa, menggendong tenggok, memakai caping dan membawa alat pertanian.
  • Di bagian dalam sudah mengenakan pakaian seperti Bondan biasa, hanya tidak memakai jamang tetapi memakai sanggul atau gelungan. Kecuali jika memakai jamang maka klat bahu, sumping, sampur, dll sebelum dipakai dimasukkan tenggok. Bentuk tariannya; pertama melukiskan kehidupan petani kemudian pakaian bagian luar yang menggambarkan gadis pegunungan dilepas satu demi satu dengan membelakangi penonton. Selanjutnya menari seperti gerak tari Bondan Cindogo atau Mardisiwi.

Tari Topeng

Tari Topeng (https://chic-id.com)

Tari ini sebenarnya berasal dari Wayang Wong atau drama. Tari Topeng yang pernah mengalami kejayaan pada jaman Majapahit, topengnya dibuat dari kayu dipoles dan disungging sesuai dengan perwatakan tokoh/perannya yang diambil dari Wayang Gedhog, Menak Panji. Tari ini semakin pesat pertumbuhannya sejak Islam masuk terutama oleh Sunan Kalijaga yang menggunakannya sebagai penyebaran agama. Beliau menciptakan 9 jenis topeng, yaitu topeng Panji Ksatrian, Condrokirono, Gunung sari, Handoko, Raton, Klono, Denowo, Benco(Tembem), Turas (Penthul). Pakaiannya dahulu memakai ikat kepala dengan topeng yang diikat pada kepala.

 

Sumber : http://wisata-indonesia-elipl.blogspot.co.id/2016/05/tarian-tradisional-surakarta-jawa-tengah.html

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Artikel. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s